Sunday, May 21, 2017

Saya dan Kampus, Catatan Seorang Aktivis

Saya dan Kampus

 Oleh: Wardi 

Sebenarnya saya sudah tidak bernafsu lagi menulis tetek bengek mengenai kampus. Namun, makin ke sini, kok makin menarik untuk diikuti. Utamanya soal persoalan yang dibawa mahasiswa Universitas Proklamasi 45 (UP45) Yogyakarta dalam penolakannya terhadap pimpinan kampus yang baru, Ir. Bambang Irjanto MBA (BI). Eh, bukan baru, sudah lama menjajah rakyat akademika UP45. Sejak dari 2008, mahasiswa merasa dipermainkan hak-haknya. Permasalahan yang mengundang aksi mahasiswa sejak keberadaan Bapak BI di UP45 itu, dibuktikan dengan aksi besar-besaran oleh mahasiswa UP45 pada 2009, 2011, dan 2017.

Baca: Mahasiswa Demo Tolak Rektor BI

Pada aksi 2017 ini, mahasiswa menuntut Bapak BI mundur dari jabatannya sebagai rektor. Mahasiswa melihat saking banyaknya kejanggalan dari pemilihan rektor. Belum soal integritas yang tidak dimiliki oleh seorang Bapak BI untuk memimpin UP45 empat tahun ke depan.
Aksi mahasiswa UP45 tahun ini sudah berlangsung sejak 11 April lalu.

Berita mengenai aksi mahasiswa UP45 bisa dengan mudah di-googling. Meski bukan pemberitaan dari madia-media nasional, namun semua kabar berita tersebut adalah benar adanya. Sesuatu yang dimaklumi kenapa kasus pendidikan di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta tidak diminati oleh media-media nasisonal. Jawaban yang logis adalah karena kampus UP45 adalah sekian dari kampus-kampus kecil lainnya yang ada di Yogyakarta. Meski sebagai kampus kecil, UP45 adalah kampus yang punya catatan sejarah panjang di Yogyakarta. Itu dapat dibuktikan dari tahun berdirinya sejak 1964.
 

Siang tadi, Minggu 21 Mei, mahasiswa didatangi sekelompok orang tidak dikenal.
Mereka mengatakan kepada mahasiswa yang berada di kampus dalam rangka dapat tugas dari pihak pimpinan dan yayasan UP45. Mereka dari PT Rajawali (Penyedia Jasa Scurity). Mereka menurunkan spanduk-spanduk, yang dipasang mahasiswa sewaktu melakukan aksi beberapa minggu lalu, yang berisi beberapa tuntutan dan pernyataan penolakan mahasiswa terhadap terpilihnya Bapak BI. Orang-orang suruhan tersebut tidak menggunakan seragam layaknya satpam atau sejenisnya. Pun dari tuturkatanya seperti bukan seorang satpam. Yang lebih pantas disebut sebagai preman.

Pikiran pendek pimpinan kampus UP45 dengan mendatangkan orang luar kampus untuk menertipkan penyampaian pendapat mahasiswa itu dinilai telah mencederai sistem demokrasi negeri ini. Analogi sederhananya, kenapa kok tidak keamanan kampus, dalam hal ini satpam, yang menurunkan spanduk itu? Apa satpam kampus tidak bisa kerja? Jawabannya adalah karena hampir semua sivitas akademika di UP45 merasakan luka yang sama akibat samurai-samurai sistem Pak BI sejak mulai 2008. Yang sekarang telah memutus urat takutnya dalam menyuarakan bagaiaman kebobrokan sistem sejak beradanya Bapak BI di UP45.

Baca: 7 Tuntutan Aliansi Mahasiswa Proklamasi 45

Lalu beberapa hari lalu, seorang dosen bertanya kepada saya, "Kamu tidak lelah, ya, aksi-aksi terus menolak Pak BI?" katanya di Kantin Kampus. Pertanyaan itu, bagi saya adalah pertanyaan yang sangat privasi. Kenapa, kok, saya yang sudah dapat beasiswa penuh selama delapan semester, yang tidak terancam secara nilai, kok masih ikut-ikutan aksi? Karena soal beasiswa bagi saya adalah kewajiban negara untuk memberi pendidikan gratis bagi yang tidak mampu.
Sedang soal nilai, bagi saya itu kewajiban dan hak saya untuk mendapatkannya sesuai kemampuan saya mengusai setiap mata kuliah. Sedang aksi mahasiswa saat ini, adalah persoalan lain, yang lebih mengarah kepada soal kemanusiaan. Soal hak-hak mahasiswa yang banyak terampas. Soal kecintaan mahasiswa dalam mendambakan kampusnya lebih maju. Kampus yang tidak hanya menjadi sarang mafia pendidikan. Jadi, jangan kaitkan aksi kemanusiaan mahasiswa, yang itu dilindungi demokrasi, dengan persoalan beasiswa dan nilai yang didapat setiap mahasiswa.

Salam Mahasiswa!

*Foto diambil siang tadi di area kampus UP45 ketika kedatangan orang tidak deikenal, yang berani mencopot spanduk.

0 komentar

Post a Comment