Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bantu Yang Jauh, Depan Mata Terabaikan?

Palestina dalam perjuangannya terus mendapatkan dukungan dari indonesia. Tentunya ini bukan asal dukung mendukung tetapi ada kaitan sejarahnya. Banyak aksi-aksi dari rakyat yang mendukung, begitu pula sikap pemerintah.
Bantuan demi bantuan terus dilakukan kesana. Ini hal yang positif secara kemanusian, sebagaimana tertuang didalam pembukaan undang-undang dasar 1945. Setiap bangsa di dunia punya hak untuk merdeka, indonesia juga turut menjaga ketertiban dunia, dan lain sebagainya.

Ribuan rakyat sipil di Nduga – Papua mengungsi


Dibalik itu, yang kemudian menjadi suatu pertanyaan adalah ketika ada fakta didepan mata tetapi seakan tak terlihat. Semut yang jauh terlihat tetapi gajah didepan mata bahkan tak nampak. Begitulah sekilas situasi yang terlintas; dan kondisi yang terjadi di kabupaten Nduga?. Tahukah anda bahwa fakta hari ini ada pengungsian rakyat sipil akibat dari kehadiran personel militer yang mengawal pembangunan jalan trans papua sekaligus mengejar anggota tentara pembebasan nasional Papua.

Ribuan orang telah meninggalkan tempat tinggalnya dan mengungsi ke kabupaten sekitar yang lebih aman. Anak-anak sekolah terpaksa bersekolah di sekolah darurat yang dibangun oleh para relawan dan pihak terkait yang peduli dengan kemanusiaan dan pendidikan bagi generasi bangsa ini.
Yang jauh dibenua sebelah bisa dengan bangga dibantu, lalu diekspos media bak dewa penyelamat tetapi yang dekat semakin terlupakan, terabaikan dan dibiarkan begitu saja.
Presiden Joko Widodo meninjau pembangunan jalan di wilayah Desa Kenyam, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua

Memang dikabupaten Nduga, dalam kunjungannya presiden joko widodo beberapa tahun lalu menyampaikan bahwa disana itu medannya berat. Bahkan jarak antar distrik yang satu dengan yang lainnya berjauhan. Sehingga penting untuk membangun jalan membuka keterisolasian yang ada. Namun ketika pada akhir tahun 2018 situasi Nduga menjadi genting akibat penembakan pekerja dan kehadiran militer yang datang; rakyat sipil trauma dan mengungsi kehutan-hutan yang ada.
Lagi-lagi pesan pak presiden nampaknya hanya untuk menambah pasukan keamanan dan lebih mengutamakan pembangunan jalan dibanding memberi perhatian terhadap penduduk yang mengungsi.

Yah begitulah realita rakyat Papua dimasa ini, masa dimana klaim soekarno 19 desember 1961 dan juga hasil pepera 1969 yang berlanjut dengan otsus dalam rangka membangun Tanah Papua namun tanpa peduli orang-orangnya.

Terimakasih para pengunjung blog #BisaPapua yang terhormat, tulisan spanggal ini hanya untuk dibaca, bila ada pendapat berbeda silahkan tanggapi di komentar.

Salam Blogger

Gabhex | Bisa Papua