Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Salah Persepsi "Perhatian" ala Sosmed

Kemudahan akses dalam menggunakan alat komunikasi terutama andoid dan sebagainya telah membuat sebagaian besar umat manusia dibumi ini tak bisa jauh atau sehari tanpa gadgetnya. Selain untuk komunikasi juga untuk mengakses berbagai fitur yang tersedia didalamnya. Ketika tidur dan bangun yang diperiksa pasti handphonenya selanjutnya sosial media, facebook, intagram dan lain-lainnya.

Memang dari segi manfaat positifnya tentu sangat banyak; seperti yang sudah diketahui oleh umum dan bukan rahasia lagi :). Tetapi sisi negatifnya tentu sangat beragam.
Dari hasil riset yang di lakukan Oleh Hermawan Kartajaya (Founder & CEO, MarkPlus, Inc) Bersama Joseph Kristofel (Associate Research Manager, MarkPlus Insight), aktifitas tersering yang dilakukan anak muda di sosial media on-line adalah update status, diikuti oleh aktifitas lainnya seperti memberikan komentar buat status orang lain, kemudian chatting atau inboxan dan up-load foto.  Artikelnya bisa dibaca di Kompas.com dengan judul "Apakah Anda Update Status Karena Butuh Perhatian?",

Perhatian ala Sosmed


Salah persepsi “Perhatian” yang saya maksudkan disini adalah ketika beberapa pengguna sosial media mulai mengartikan pesan, teks inbox yang dibaca seakan disampaikan secara langsung.

Misalnya saja sebuah obrolan di sosmed:

A : Apa kabar?
B : Baik!
A : Lagi ngapain?
B : Tiduran sambil lihat hp
A : Dimana ? sama siapa?
B: Tanya2 macam intel saja?

Dari tanya jawab itu mulai berlanjut, seandainya si B terus menjawab, atau tiap hari si A terus mengirim pesan untuk sekedar say hello; maka si B lama-lama akan mengganggap si A perhatian. Bulshit!!!

Dan kejadian seperti tentu paling sering yang dialami oleh kaum hawa; terutama yang mencari pasangan di sosial media. Berusaha berteman lalu menyapa, terus menyapa dan bahkan menyapa lagi walaupun tidak dibalas oleh si cewe teman baru sosmed tersebut.

Mungkin juga ada kaum hawa yang bertidak sebaliknya untuk kaum adam dengan cara yang sama. Namun nampaknya lebihnya banyak kejadian dari cowo yang memulai.

Salah pesepsi perhatian ini tentu saja terjadi ketika ruang-ruang untuk diskusi keluarga, ngeteh bersama atau sekedar sejam dua jam duduk bergaul dengan lingkungan. Tidak setiap waktu dengan andoid dalam tatapan, tetapi digunakan sesuai waktu yang memang penting-penting saja.

Beberapa orang lebih suka menyimpan hp ketika sedang asik-asik ngobrol tetapi beberapa lagi lebih suka sambil mengobrol tetap melanjutkan chat dengan teman di dunia maya. Nah kalo teman yang saat ini sedang baca tulisan ini, semoga termasuk dalam tipe yang paham menggunakannya. Ketika bersama teman-teman, hp tersimpan disaku celana....:)
Yang namanya perhatian itu bukan hanya melalui tulisan, emoticon, melambai di inbox tetapi lebih kepada berkunjung; menelpon, berbicara  atau salaman bercerita langsung. Sehingga jalinannya lebih hidup, lebih bisa mengerti satu dengan lain.

Oh iya maaf bukan ahli apalagi memahami lebih dalam persoalan yang tertulis diatas, tetapi itu sedikit hal yang mengusik dan terlintas hingga memaksa jari-jari tangan harus menari diatas tuts laptop dan menuliskannya.

Kalau ada teman-teman pengunjung yang lebih memahami dan punya sudut pandang yang lebih kuasai materi silahkan tanggapi tulisan ini.

Salam Blogger

Gabhex | Bisa Papua