Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Jangan Salah Memilih; 1, 2, Golput atau Boikot ?

Sebentar lagi akan digelar pemilu, rakyat yang memilih pemimpinnya untuk lima tahun kedepan. Mulai dari ujung barat sampai sampai disini tanah Papua. Beragam baliho, poster terpajang hiasi setiap sudut  jalan. Dari berukuran besar hingga yang sedang atau bahkan kecil. Dari yang hanya pajang foto sampai slogan, atau visi misi ikut tertulis. Dari capres hingga calon legislatif tingkat kabupaten. Pokoknya rame sekali. Memang lagi musim, musim politik.


Pilih 1, 2 atau golput

Diantara 2 pilihan kandidat calon presiden yang ada, tentu tidak dipungkiri bahwa akan ada juga yang memilih golput. Mengapa golput? Pastinya beragam alasan tentunya. Tergantung siapa yang ditanya dengan pertanyaan mengapa tidak memilih? Apakah tidak menentukan pilihan alias memilih golput bertentangan dengan hukum? Saya bukan ahli atau paham hukum. Tetapi sejauh yang saya tau bahwa memilih dan tidak memilih tetap merupakan hak setiap orang. Hanya saja sangat disayangkan bila tidak memilih; lantas setelah semua proses demokrasi ini usai. Lalu kita gaungkan berbagai persoalan kita kepada mereka yang tidak kita pilih. Mubazir namanya; tapi lagi-lagi itu hak setiap manusia untuk menentukan pilihannya.

Lihat juga: Siapa Capres Indonesia, Pilihan Papua Nanti?

Bagaimana dengan Caleg Provinsi Maupun Kabupaten?

Judul diatas ini terfokus pada permasalahan di Tanah Papua; sebagaimana santer terbagi dimedia online dan jejaring sosial , lagu tentang boikot pemilu atau memilih golput dikumandangkan. Dilema mungkin saja terjadi pada lapisan rakyat Papua, terutama yang hingga hari ini tetap memegang teguh dan berdiri bersama lapisan perjuangan bangsa Papua untuk memperjuangkan hak politiknya.

Seruan dari wadah persatuan dalam hal ini ULMWP tentang boikot pemilu menjadi sebuah pilihan serba sulit. Mengapa saya menyebut serba sulit? Hal ini tentu dengan dasar dan alasan yang jelas. Beberapa dari para calon legislatif baik tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi adalah tokoh muda Papua yang vokal dan notabene pernah menjadi aktivis jalanan. Putar arah dan masuk dalam kancah perpolitikan yang ada dalam berebut suara rakyat guna meneruskan aspirasi dari tingkat dasar mungkin saja menjadi alasan utama harus mengambil jalan ini.

Apakah Boikot atau Golput Mayoritas?

Kaitan dengan ini menurut pengamatan saya tentu saja tidak akan terjadi. Mayoritas rakyat akan tetap berpartisipasi dalam pemilihan umum yang digelar pada 17 April mendatang. Mau tidak mau, siap tidak siap! Itu akan terjadi, karena para calon legislatif saat ini ada banyak orang Papua yang maju. Mereka yang maju saat ini tentu memiliki basis rakyat pendukung. Baik pendukung secara partai, keluarga, teman atau kerabat lainnya. Selain itu popularitas dari sicaleg sendiri.

Memang akan ada juga yang boikot atau tidak terlibat dalam pemilihan, ada juga bahkan golput tetapi mungkin kecil atau sedikit saja. Hal ini dikarenakan secara umum himbauan tentang ketidak terlibatan rakyat bangsa papua dalam kegiatan tersebut terlambat. Harus dilakukan atau dikeluarkan saat bursa pencalonan dibuka. Sehingga rakyat punya dasar dan alasan untuk menentukan pilihan. Ikut memilih atau tidak. Mengikuti himbauan tersebut atau tidak.

Jangan salah pilih!

Bagian akhir dari tulisan singkat ini, yakni jangan salah pilih. Salah pilih presiden, salah pilih wakil di DPR Propinsi, wakil di DPRD Kabupaten, salah pilih untuk boikot dan tidak.  Anda yang menentukan, perhatikan visi dan misi juga latar sicaleg dengan baik, jangan terpaku pada janji hingga terbuai lalu memilih, karena janji terkadang dilupakan.

Begitu pula dengan kesadaran sepenuhnya untuk tidak memilih dan bukan asal terjebak pada seruan tanpa memahami dan mengerti dampak dan juga tujuan dari pemilihan maupun boikot atau golput itu sendiri.

Jadilah generasi cerdas, yang siap menentukan masa depan bangsanya.

Salam Blogger

Gabhex | Bisa Papua